Petani Muda Minta Pj Gubernur Rumuskan Solusi Terkait Merosotnya Harga TBS Kelapa Sawit di Aceh

Subulussalam, aceh.indometro.club – Edi Suhendri sebagai Petani Muda Kota Subulussalam meminta kepada Pj Gubernur Aceh segera melakukan Rapat Koordinasi antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, Perusahaan Kelapa Sawit dan Perkebunan, terkait merosotnya harga Tandan Buah Segar (TBS).

Agar Pj.Gubernur AcehAhmad Marzuki yang baru dilantik oleh Mendagri Tito Karnavian dalam sidang Paripurna di Gedung DPRA pada hari Jumat (8/7/2022, tentu mengetahui nantinya secara langsung harga sawit sekarang di provinsi Aceh ini dari laporan bupati dan walikota tentang merosot nya harga sawit masing masing di kabupaten/kota di Aceh,

“Kemudian dari rapat itu nantinya dinas perkebunan dan juga perushaan  memberikan laporan serta mencari solusinya agar harga TBS di Aceh ini bisa normal kembali agar petani sawit di Aceh ini tidak menjerit lagi dengan harga sekarang RP. 600- 700 rupiah per kilo, langkah ini segera bapak Pj.Gubernur Aceh lakukan,” katanya berharap.

Dalam rapat itu nanti nya. Edi menyarankan kepada Pj. Gubernur Aceh agar secara keseluruhan membahas tiga hal menurut saya yakni, pertama seberapa buruk masalah yang terjadi anjloknya harga kelapa sawit di Aceh ini, kedua langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan untuk menghadapi hal tersebut agar petani tidak panik dengan harga per kilo sekarang, dan ketiga adalah usulan apa saja yang akan disampaikan ke pemerintah pusat terkait masalah yang akan dibahas dan yang ke empat membuat rekomendasi ke penmerintah pusat terhadap kesimpulan rapat yang di sepakati.

Edi Suhendri selaku Petani Kelapa Sawit di Kota Subulussalam, mengeluhkan bahwa sebenarnya di tahun 2017 dulu pernah mengalami hal serupa, namun bedanya harga pupuk hingga upah buruh saat itu masih terjangkau, tidak seperti saat ini yang sudah serba mahal. Ini membuatnya resah karena akan membuat petani sangat merugi.

“Besar harapan kami, agar harga TBS kelapa sawit ini kembali ke harga minimal dua ribu rupiah. Karena jika di bawah itu, kami sudah tidak dapat apa-apa lagi, kami panen tapi merugi,” katanya. (rj)

Kasih Komentar Dong!!

%d blogger menyukai ini: