Sentimen Pasar Tertopang Laporan Keuangan Emiten AS

 indometro.club, Jakarta-Sentimen pasar didu kung  ekspektasi bahwa The Fed sudah men dekati puncak dari siklus kenaikan suku bu nganya dan akan mulai beranjak lebih do vish di tengah melambatnya pertumbuhan eko nomi. 

Sentimen pasar juga tertopang oleh laporan keuangan emiten AS kuartal dua yang lebih baik dari ekspektasi, terutama karena eks pektasi pasar terhadap kinerja emiten sudah sangat rendah di tengah kondisi inflasi tinggi yang dapat menggerus marjin laba.

 Bukan cuma itu dari perspektif valuasi, pasar saham AS sudah turun ke level yang atraktif di bulan Juli, di mana rasio P/E sudah turun ke -1 standard deviasi di bawah rata-rata lima tahun.

 Hal ini memberikan entry point menarik bagi investor yang menilai kalau seluruh berita negatif terkait melemahnya pertumbuhan eko  nomi, inflasi tinggi, dan kenaikan suku bunga  agresif sudah diperhitungkan pasar saat ini.

Ekonomi AS mengalami kontraksi -0,9% di Q2-2022, yang merupakan kontraksi ekonomi dua kuartal berturut-turut, apakah ini berarti AS mengalami resesi ekonomi?

“Secara teknis kontraksi ekonomi selama dua kuartal berturut-turut dapat dikatakan sebagai resesi. Tapi kami melihat kondisi saat ini lebih kompleks dari definisi tersebut,” ujar. Sjamuel Kesuma, CFA – Senior Portfolio Manager, Equity PT  Manulife Aset Manajemen Indo nesia (MAMI) saat menjadi narasumber pada Seeking Apha Agustus 2022 di Jakarta

Dia mengatakan umumnya pada kondisi resesi terdapat tingkat pengangguran yang meningkat, serta aktivitas industri dan kon sumsi masyarakat melemah. Namun saat ini kami tidak melihat kondisi tersebut terjadi di Amerika.

 Tingkat pengang guran masih sangat rendah di 3,5% dan tingkat ketenagakerjaan masih pada level kuat yang tidak mengindikasikan kalau ekonomi dalam kondisi resesi.

Secara umum kami melihat data PDB Amerika ini sebagai indikasi bahwa ekonomi Amerika dalam kondisi pelemahan, kondisi yang wajar seiring dengan kenaikan suku bunga secara agresif. Kami ekspektasikan pertumbuhan ekonomi Amerika akan relatif rendah di semester dua tahun ini dan 2023

Di tengah pelemahan ekonomi AS bagaimana Anda melihat arah kenaikan suku bunga The Fed ke depannya? Saat ini prioritas utama The Fed adalah menanggulangi inflasi walaupun harus sedikit “mengorbankan” pertumbuhan ekonomi.

“Kami melihat The Fed akan melanjutkan kenaikan suku bunga di tahun ini hingga terdapat bukti kalau tekanan inflasi mereda secara konsisten. Menariknya sudah terdapat indikasi tekanan inflasi mulai berkurang seiring dengan meredanya harga komoditas dunia,” kata Samuel.

 Dia menyebutkan harga minyak dunia sudah turun ke bawah USD100 per barel, turun 26% dari titik tertingginya di USD127, dan harga gandum yang sempat melesat karena konflik Rusia-Ukraina juga sudah turun 45% dari titik tertingginya.

Apabila kondisi ini dapat dipertahankan, maka sangat mungkin bagi The Fed untuk mulai mengurangi intensitas kenaikan suku bunganya yang dapat menjadi kabar positif bagi pasar finansial.

 “Ekspektasi pasar saat ini memperkirakan suku bunga The Fed dapat mencapai 3,5% di akhir tahun, dengan besaran kenaikan suku bunga tiga rapat terakhir tahun ini akan lebih kecil dibanding kenaikan 75 bps di bulan Juni dan Juli,” papar Samuel Kesuma.(tiar adamy)

  Sentimen Pasar Tertopang Laporan Keuagan Emiten AS

indometro.club, Jakarta-Sentimen pasar didu kung  ekspektasi bahwa The Fed sudah men dekati puncak dari siklus kenaikan suku bu nganya dan akan mulai beranjak lebih do vish di tengah melambatnya pertumbuhan eko nomi. 

Sentimen pasar juga tertopang oleh laporan keuangan emiten AS kuartal dua yang lebih baik dari ekspektasi, terutama karena eks pektasi pasar terhadap kinerja emiten sudah sangat rendah di tengah kondisi inflasi tinggi yang dapat menggerus marjin laba.

 Bukan cuma itu dari perspektif valuasi, pasar saham AS sudah turun ke level yang atraktif di bulan Juli, di mana rasio P/E sudah turun ke -1 standard deviasi di bawah rata-rata lima tahun.

 Hal ini memberikan entry point menarik bagi investor yang menilai kalau seluruh berita negatif terkait melemahnya pertum buhan eko  nomi, inflasi tinggi, dan kenaikan suku bunga  agresif sudah diperhitungkan pasar saat ini.

Ekonomi AS mengalami kontraksi -0,9% di Q2-2022, yang merupakan kontraksi eko nomi dua kuartal berturut-turut, apakah ini berarti AS mengalami resesi ekonomi?

“Secara teknis kontraksi ekonomi selama dua kuartal berturut-turut dapat dikatakan sebagai resesi. Tapi kami melihat kondisi saat ini lebih kompleks dari definisi tersebut,” ujar. Sjamuel Kesuma, CFA – Senior Portfolio Manager, Equity PT  Manulife Aset Manajemen Indo nesia (MAMI) saat menjadi narasumber pada Seeking Apha Agustus 2022 di Jakarta

Dia mengatakan umumnya pada kondisi resesi terdapat tingkat pengangguran yang meningkat, serta aktivitas industri dan kon sumsi masyarakat melemah. Namun saat ini kami tidak melihat kondisi tersebut terjadi di Amerika.

 Tingkat pengang guran masih sangat rendah di 3,5% dan tingkat ketenagakerjaan masih pada level kuat yang tidak meng indikasikan kalau ekonomi dalam kondisi resesi.

Secara umum kami melihat data PDB Amerika ini sebagai indikasi bahwa ekonomi Amerika dalam kondisi pelemahan, kondisi yang wajar seiring dengan kenaikan suku bunga secara agresif. Kami ekspektasikan pertumbuhan ekonomi Amerika akan relatif rendah di semester dua tahun ini dan 2023

Di tengah pelemahan ekonomi AS bagaimana Anda melihat arah kenaikan suku bunga The Fed ke depannya? Saat ini prioritas utama The Fed adalah menang gu langi inflasi walaupun harus sedikit “me ngorbankan” pertumbuhan ekonomi.

“Kami melihat The Fed akan melanjutkan kenaikan suku bunga di tahun ini hingga terdapat bukti kalau tekanan inflasi mereda secara konsisten. Menariknya sudah ter dapat indikasi tekanan inflasi mulai ber kurang seiring dengan meredanya harga komoditas dunia,” kata Samuel.

 Dia menyebutkan harga minyak dunia sudah turun ke bawah USD100 per barel, turun 26% dari titik tertingginya di USD127, dan harga gandum yang sempat melesat karena konflik Rusia-Ukraina juga sudah turun 45% dari titik tertingginya.

Apabila kondisi ini dapat dipertahankan, maka sangat mungkin bagi The Fed untuk mulai mengurangi intensitas kenaikan suku bunganya yang dapat menjadi kabar positif bagi pasar finansial.

 “Ekspektasi pasar saat ini memperkirakan suku bunga The Fed dapat mencapai 3,5% di akhir tahun, dengan besaran kenaikan suku bunga tiga rapat terakhir tahun ini akan lebih kecil dibanding kenaikan 75 bps di bulan Juni dan Juli,” papar Samuel Kesuma.

                                                        (tiar adamy)

 

Kasih Komentar Dong!!

%d blogger menyukai ini: