Kondisi Indonesia Saat Ini Berbeda dengan Kawasan Negara Maju

JAKARTA, aceh.indometro.club – Kondisi Indonesia saat ini berbeda dengan kondisi di ka wasan negara maju yang cenderung menga lami perlambatan.

Indonesia berada pada siklus pemulihan ekonomi didukung pembukaan kembali eko nomi yang suportif bagi pertumbuhan konsum si domestik. 

Berbagai data seperti penjualan otomotif, keyakinan konsumen, dan pertumbuhan kredit terus menunjukkan pemulihan sepanjang ta hun ini.

Pandangan tersebut disampaikan Sjamuel Kesuma, CFA – Senior Portfolio Manager, Equity PT  Manulife Aset Manajemen Indo nesia (MAMI) saat menjadi narasumber pada Seeking Apha Agustus 2022 di Jakarta melalui zoom, kemarin.

Dari sisi ketenagakerjaan, kata dia tingkat pengangguran terus menurun mengindikasi kan penyerapan kerja yang membaik. Data pertumbuhan ekonomi mengafirmasi momen tum pemulihan ini dimana ekonomi tumbuh 5,44% YoY di kuartal dua 2022, naik dari 5,01% di kuartal pertama.

“Saat ini kami melihat risiko resesi terhadap Indonesia relatif minim, karena pemulihan konsumsi domestik memberi bantalan bagi Indonesia di tengah perlambatan ekonomi global,”  ujar Sjamuel.

menyinggung tentang Inflasi domestik dia menyebutkan merangkak naik sepanjang tahun ini dan sudah melampaui batas atas target BI. Apakah BI terlambat menaikkan suku bunga (behind the curve) seperti yang terjadi pada The Fed? Bagaimana pandangan Anda terkait kebijakan suku bunga BI?

Meskipun inflasi umum meningkat mendekati 5%, namun inflasi inti – yang merupakan acuan kebijakan BI – tetap terjaga di 2,86% per bulan Juli. Dengan inflasi inti yang masih terjaga maka memang belum ada urgensi bagi BI untuk menaikkan suku bunga sejauh ini.

.Sjamuel mengatakan menariknya, nilai tukar Rupiah merupakan salah satu nilai tukar dengan kinerja terbaik di Asia tahun ini, walau BI belum menaikkan suku bunga, mengindi kasikan keyakinan pasar terhadap kredibilitas kebijakan moneter BI. 

Sebetulnya BI juga memiliki alat kebijakan selain suku bunga untuk menyerap likuiditas domestik, seperti melalui kenaikan Giro Wajib Minimum (GWM). Sepanjang tahun ini GWM sudah naik dari 3,5% menjadi 7,5% di Juli.

 “Jadi sebetulnya pengetatan kebijakan moneter sudah dilakukan secara gradual sepanjang tahun ini. Namun seiring dengan pemulihan ekonomi, kami melihat inflasi inti akan naik secara gradual sehingga BI berpo tensi menaikkan suku bunga ke level 4,0% – 4,25% tahun ini,” prediksinya.

Lntas setelah menguat menyentuh rekor tertinggi di Q1-2022, IHSG bergerak fluktuatif dan belum kembali ke level tertingginya. Ba gaimana pandangan Anda terhadap outlook IHSG? Berapa target level IHSG untuk akhir tahun ini?

“Kami memiliki pandangan positif terha dapoutlook pasar saham Indonesia. Volatilitas pasar di kuartal dua lebih disebabkan oleh sentimen global karena The Fed yang menjadi lebih agresif dan kekhawatiran resesi eko nomi,” papar Sjamuel

Namun lanjut dia secara fundamental kondisi makroekonomi domestik tidak berubah, tetap suportif di mana momentum pemulihan ekonomi terus terjadi. Meningkatnya aktivitas domestik dan harga komoditas yang suportif berdampak positif pada profitabilitas emiten dalam pasar saham. 

Ekspektasi target level IHSG kami dapat mencapai 7600 dengan ekspektasi pertum-buhan earnings di kisaran 12%. Yang dapat menjadi katalis pasar ke depannya adalah apabila terdapat perbaikan sentimen pasar global seperti The Fed yang menjadi lebih dovish atau meredanya tekanan inflasi global secara konsisten.

Bagaimana filosofi investasi dan strategi portofolio Anda untuk menghasilkan alpha?

Sjamuel menjelaskan, pengelolaan reksadana saham MAMI dilakukan secara aktif yang didasari oleh analisa fundamental dengan riset mendalam untuk membentuk portofolio yang optimal. 

“Kami menerapkan kerangka GCMV (growth, cashflow, management, valuation) dalam pemilihan saham untuk menyaring saham dengan fundamental yang baik dan tingkat valuasi yang atraktif. Untuk strategi portofolio, kami memiliki pandangan positif pada sektor yang menangkap potensi pertumbuhan struktural Indonesia di bidang pembangunan industri energi terbarukan dan ekonomi digital. Kami melihat eksposur di saham sektor komo ditas dan teknologi dapat menangkap potensi Indonesia dalam tema ini,” katanya.(bachtiar adamy).

Kasih Komentar Dong!!

%d blogger menyukai ini: